Ketiadaan air untuk mengairi sawah membuat masyarakat Desa Puncakbaru, Cidaun, Cianjur, bergotong royong untuk membangun saluran irigasi. Sejak tahun 1976, mereka berusaha menggapai sumber air yang jauhnya mencapai 9 Kilometer dari desa mereka. Kerja keras ini terbayar ketika air berhasil mengaliri 400 hektar sawah di Puncakbaru pada 2014 silam.

Membangun saluran irigasi menuju Puncakbaru bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, masyarakat harus menembus pegunungan dengan hutan belantara yang masih dihuni oleh macan. Belum cukup sampai di situ, mereka juga harus menghadapi sebuah gunung yang menghalangi jalur distribusi air untuk sampai ke desa. Tantangan ini membuahkan aksi legendaris: dua orang warga Puncakbaru menggali terowongan sepanjang 137 meter di bawah gunung. Setelah menggali berbulan-bulan, akhirnya terowongan pun selesai dan air berhasil mengalir sampai ke desa.

Semangat gotong royong dan berdikari inilah yang kemudian menginspirasi Badan Prakarsa Pemberdayaan Desa & Kawasan (BP2DK) untuk mengusulkan Desa Puncakbaru sebagai salah satu Desa Prioritas Presiden. Desa ini beserta 199 desa lainnya di Indonesia akan menjadi model Sistem Pengelolaan Pembangunan Desa yang diinisiasi oleh Kantor Staf Presiden Republik Indonesia.

Irman Meilandi, Direktur Eksekutif BP2DK; Solihin Nurodin, Manajer Penjangkauan dan Pengorganisasian Desa BP2DK; dan Farid, Petugas Penghubung & Regulasi Desa melakukan kunjungan ke Puncakbaru pada Sabtu, 17 September 2016. Dalam kunjungan tersebut, ketiganya meninjau proses perbaikan dan penguatan saluran irigasi di Puncakbaru. “Sungguh daya juang yang sangat besar dan konsisten,” ungkap Irman.

Menariknya, pada awalnya, warga membangun saluran irigasi dengan alat seadanya dan memanfaatkan bahan-bahan di alam. Salurannya sendiri sangat sederhana. Mereka membuat parit dengan menggali tanah di sepanjang saluran. Agar parit tetap kokoh, mereka membuat dinding saluran dengan cara menyusun batu-batu besar dari sekitar lokasi pekerjaan.

Bantuan sendiri baru datang belakangan berupa dana untuk membeli material bangunan untuk memperbaiki dan memperkuat saluran irigasi. Salah satunya batuan dari pemerintah melalui program PNPM yang berhasil memperkuat saluran irigasi sepanjang 2 Kilometer. Selain itu, pemerintah juga membantu memperkuat terowongan yang dibuat warga secara manual.

Bantuan terbaru berasal dari sebuah lembaga di Amerika yang memberikan dana hibah untuk membangun saluran irigasi sepanjang 7 Kilometer. Dana hibah ini salah satunya terwujud berkat dukungan BP2DK dalam menghubungkan antara lembaga tersebut dengan masyarakat Puncak Baru.

Dana hibah sendiri digunakan untuk membeli semen. Pasalnya, material yang satu ini harganya bisa mencapai 150 ribu hingga ke lokasi saluran irigasi. Penyebabnya, infrastruktur jalan yang buruk ke desa membuat biaya transportasi semen meningkat. Belum lagi, semen harus digendong untuk sampai ke lokasi saluran irigasi karena tidak ada akses jalan untuk kendaraan. Adapun material lainnya berupa pasir dan batu alam berasal dari sekitar lokasi saluran irigasi. Proses pengerjaannya sendiri dilakukan oleh warga secara gotong royong dan mandiri. Mereka bahu-membahu bekerja keras tanpa dibayar sepeser pun.

Kini, dengan adanya saluran irigasi, sawah di Puncakbaru mampu meningkatkan produksi padinya hingga dua kali dalam setahun. Hal ini membuat masyarakat mampu melakukan swasembada pangan. Selain itu, beras Puncakbaru juga disukai oleh masyarakat di luar desa. Hal ini mampu mendorong perekonomian warga desa menjadi lebih baik lagi.***

Warga puncak baru bergotong royong membangun saluran irigasi untuk mengalirkan air ke desa mereka. (Foto: Solihin N)

Warga puncak baru bergotong royong membangun saluran irigasi untuk mengalirkan air ke desa mereka. (Foto: Solihin N)

puncak-baru-3

Irman Meilandi, Direktur Eksekutif BP2DK, berfoto di dalam terowongan saluran irigasi yang dibangun oleh warga Puncakabaru dengan peralatan seadanya. (Foto: Solihin N)

puncak-baru-2

Terowongan saluran irigasi yang dibangun oleh dua warga Puncakbaru untuk menyalurkan air dari balik gunung ke desa. (Foto: Solihin N)

Farid, Petugas Penghubung & Regulasi Desa BP2DK, memperhatikan dua warga Desa Puncakbaru yang memanggul semen. (Foto: Solihin N)

Farid, Petugas Penghubung & Regulasi Desa BP2DK, memperhatikan dua warga Desa Puncakbaru yang memanggul semen. (Foto: Solihin N)

Attachments
  • whatsapp-image-2016-09-20-at-12-31-14-copy
  • puncak-baru-3
  • puncak-baru-2
  • puncak-baru-1
Yudha P Sunandar

Village Knowledge Management Specialist di BP2DK. Penikmat jurnalisme dan angin sejuk sepoi-sepoi. Senang menuliskan kisah-kisah inspiratif dan mengunjungi desa-desa yang mengagumkan.

View All Posts

Related Post

Leave us a reply

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.