Yusup Maulana: Muara Gembong dan Muara Gembong Kita.

Deburan angin laut bertiup kencang di pesisir paling ujung Kabupaten Bekasi, sekitar 70 km dari Jakarta. Di sana terdapat permukiman padat penduduk di sepanjang Kali Citarum atau lebih dikenal sebagai Muara Gembong. Muara Gembong adalah kecamatan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Daerah ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Teluk Jakarta di barat, Kabupaten Karawang di timur, dan Kecamatan Babelan di selatan.

Di muara Kali Citarum ini awalnya terdapat hamparan hutan mangrove yang hijau. Namun lambat laun, migrasi penduduk yang tinggi mengubahnya menjadi tambak ikan dan udang sehingga hutan mangrove tergerus. Kondisi ini membuat daerah pesisir tersebut tak lagi kuat mengatasi air laut dan abrasi. Banyak rumah, tempat ibadah hingga sekolah nyaris rusak lantaran setiap hari terendam air laut, sehingga tidak lagi layak ditempati. Banyak rumah yang dibiarkan begitu saja dan perlahan-lahan hancur dengan sendirinya.

Sebagian besar warga di Muara Gembong bekerja sebagai nelayan, namun pendapatannya tidak menentu. Mereka memilih bertahan tinggal di sana, meski permukimannya terancam tenggelam. Meski telah belasan tahun hidup di tengah ancaman abrasi, warga di Muara Gembong tetap bertahan di sana karena tak punya tujuan tempat berpindah.

Berangkat dari permasalahan tersebut, muncul inisiasi masyarakat untuk menyelamatkan alam Muara Gembong dari kehancuran.

Sebuah komunitas masyarakat bernama Muara Gembong Kita hadir sebagai wadah gerakan penyelamatan dan pelestarian hutan mangrove sebagai sabuk hijau pesisir pantai Bekasi.

Seorang pemuda asli Muara Gembong yang bernama Yusup Maulana adalah pendirinya. Dibawah komando Uci, komunitas Muara Gembong Kita menjadi motor penggerak puluhan kelompok nelayan untuk ambil bagian dalam penyelamatan lingkungan Muara Gembong. Mereka mengupayakan untuk mengembalikan fungsi hutan mangrove sebagai sabuk hijau pesisir Bekasi.

Menurut penelusuran Uci (sapaan akrab Yusup Maulana), memang pembukaan tambak besar-besaran di area pesisir Muara Gembong menjadi awal kehancuran hutan mangrove pesisir Bekasi. Sejak tahun 1980an tambak-tambak dibangun dengan hasil yang melimpah. Namun, kini kondisinya berbalik, alih fungsi hutan mangrove menjadi tambak tidak bisa disebut sebagai pengelolaan alam melainkan eksploitasi alam. Akibatnya, abrasi dan banjir bandang menjadi tamu tahunan di Muara Gembong.

Di sisi lain, Uci juga merupakan pegiat media sosial (medsos). Berbagai platform medsos dimanfaatkan oleh komunitas muara gembong kita sebagai corong untuk menyuarakan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh mereka. Berita-berita kegiatan yang dimuat pada website muaragembongkita.com semakin menarik khalayak untuk membantu. Bahkan Presiden Jokowi pun pernah turun langsung (simbolik) melakukan proses penanaman mangrove di Muara Gembong. Dengan gerakan menggabungkan kekuatan ril masyarakat dan kekuatan dunia maya, Uci telah membuktikan bahwa masalah yang dihadapi oleh masyarakat di Muara Gembong secara bertahap menemukan jalan keluarnya.

Related Post

Leave us a reply

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.